Entri Populer

Selasa, 17 Desember 2013

BATU GRANIT


A.    Pengertian Batu Granit
Granit adalah batuan terobosan yang terjadi melalui proses pembekuan magma di permukaan bumi dengan temperatur yang stabil. Batu granit memiliki sifat asam; berbutir kasar hinggga sedang; serta bewarna terang keabuan, kecoklatan, dan kemerahan. Selain itu, batu granit merupakan  jenis batuan intrusif, felsik, igneus yang umum dan banyak ditemukan. Granit kebanyakan besar, keras dan kuat, dan oleh karena itu banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi. Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm³ dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80. Kata granit berasal dari bahasa Latin granum.Dalam bidang industri dan rekayasa, granit banyak dipakai sebagai bidang acuan dalam berbagai pengukuran dan alat pengukur. Hal ini dikarenakan granit bersifat kedap air, kaku (rigid), non-higroskopis dan memiliki koefisien ekspansi termal yang sangat rendah. Salah satu penerapannya adalah pada mesin pengukur koordinat (Coordinate Measuring Machine).

B.     Identifikasi Granit
Batu granit memiliki warna yang terang, bertekstur kasar dengan susunan mineral acak. Granit memiliki kilau yang bagus dan tahan cuaca serta hujan asam. Granit adalah jenis batuan intrusif, felsik, igneus yang umum dan banyak ditemukan. Granit kebanyakan besar, keras dan kuat, dan banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi bangunan. Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm³ dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80.

C.     Terbentuknya Granit  
Granit ditemukan dalam pluton-pluton besar pada benua, ketika kerak bumi telah mengalami pengikisan yang besar.Granit mengalami proses pendinginan yang sangat lambat pada kedalaman jauh dari permukaan tanah, untuk membentuk butiran-butiran mineral besar. Pluton yang ukurannya kurang dari 100 km2 disebut dengan galang dan yang lebih besar disebut batolit.Selain itu, granit juga terbentuk dari letusan gunung berapi yang mengeluarkan lava pijar. Ketika lava keluar dari dalam perut bumi dan memenuhi daratan bumi, tetapi lava dengan komposisi sama dengan granit hanya ke luar pada permukaan bumi. Ini berarti, granit harus terbentuk melalui pelelehan batuan benua yang dapat terjadi karena dua alasan, yaitu penambahan panas dan penambahan volatil (air atau karbon dioksida atau keduanya).
Permukaan benua relatif panas karena mengandung sebagian besar uranium dan potasium yang memanaskan daerah sekelilingnya melalui peluruhan radiokatif. Proses lempeng tektonik terutama subduksi dapat menyebabkan magma basaltik naik di bawah benua. Selain panas, karbon dioksida ini melepaskan magma dan air yang membantu semua jenis batuan meleleh pada suhu lebih rendah. Diperkirakan bahwa sejumlah besar magma basaltik dapat menempel ke bagian bawah sebuah benua dalam proses yang disebut underplating. Dengan pelepasan panas dan cairan yang lambat, sejumlah besar kerak benua bisa berubah menjadi granit pada waktu bersamaan.
Ada tiga hal yang membedakan granit dengan batuan lainnya, yaitu :
1)      Granit terbetuk dari butiran-butiran mineral besar yang bersatu erat.
2)      Granit selalu terdiri atas mineral kuarsa dan feldspar, dengan atau tanpa jenis mineral lain di dalamnya.
3)      Hampir semua jenis granit berbentuk beku dan plutonik. Pengaturan acak butiran pada batu granit merupakan bukti otentik asal plutoniknya.  Batuan dengan komposisi yang sama seperti granit bisa terbentuk melalui proses metamorfisme batuan sedimen yang lama. Akan tetapi, jenis batuan ini memiliki corak yang kuat dan biasanya disebut dengan granit gneiss.

D. Stuktur Mineral
Granit yang murni hanya salah satu jenis granitoid. Sebuah granitoid mengandung 20-60 % kuarsa dan kandungan feldspar. Granit adalah batuan yang kuat karena memiliki butiran mineral yang terbentuk selama periode proses pendinginan yang sangat lambat. Penambahan kuarsa dan feldspar menunjukkan kekuatan granit lebih kuat dibandingkan baja. Karena kekuatannya tersebut, granit banyak dipakai untuk bangunan dan benda hiasan seperti batu nisan.Kuarsa dan Feldspar umumnya memberikan granit bercahaya terang, dari warna merah muda sampai warna putih. Warna dasar tersebut disisipkan oleh mineral-mineral pengaya lainnya yang warnanya lebih tua. Mineral pelengkap yang paling umum adalah mika biotit hitam dan hornblenda amfibol hitam.Granit merupakan batuan beku dalam bertekstur holokristalin, feneritik, berbutir kasar, mengandung mineral-mineral : kuarsa 10-4- %,  felsparkalium 30-60 %, plagioklas natrium 0-35%, mineral mafis (biotit, hornblenda) 35-10 %.Batuan leleran dari granit adalah Riolit. Secara fisik riolit berbutirhalus, bertekstur holokristalin hingga hipokristalin, afanitik. Mempunyai komposisi mineral sama dengan granit. Riolit terbentuk sebagai batuan gang dan batuan leleran dalam bentuk retas, sill, dan aliran. Berwarna abu-abu kemerahan hingga kehijauan, berbutir kasar dengan komposisi mineral feldspar, kuarsa, hornblende dan biotit.

E.Cara Penambangan
Tekinik penembangan granit atau granodiorit dilakukan seperti pada penambangan andesit.Mempertimbangkan warna dan tekstur granit atau granodiorit lebih indah dibandingdengan andesit, penambangan dalam bentuk balok untuk selanjutnya dipotong ataudigrenda dengan ukuran tertentu, kemuduan dipoles sangat dianjurkan. Sisa hasil pemotongan dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teraso.



   
PEMANFAATAN BATU GRANIT

Manfaat batu granit antara lain sebagai bahan baku pembuatan tegel, batu hias, selain itulembaran granit atau granodiorit yang sudah dipoles dapat dipergunakan sebagai lantai atau ornamen dinding. Batuan ini apabila terkena sinar matahari dan air hujan relatif lebih resisten dibanding dengan marmer. Disamping itu granit atau granodiorit dimanfaatkan juga sebagai meja dan lainnya. Sia potongan granit atau granodiorit dicetak bersqma semen putih untuk membuat teraso

Selasa, 22 Oktober 2013

TAHAPAN KERJA DARI BANGKA BOR


1




    - Buat lobang seukuran pipa casing sedalam 30 cm, tanah galian tersebut dimasukkan ke dalam bak ukur tanah
2.      Pipa casing dan casing shoe pertama dimasukan kedalam lobang yang dibuat
3.      Tancap pipa casing pada lapisan tanah, posisinya harus tegak lurus
4.      Pasang kepala buluh pada pipa yang tertancap, putar kepala buluh sampai tersambung kuat dengan pipa casing.
5.      Pasang roda bor di kepala buluh dan putar agar roda tidak goyang
6.      Pemboran,
-          4 orang naik keatas roda bor
-          Lonceng dinaikkan keatas roda dan dimasukkan kedalam lobang pipa, tahan dengan besi cabang agar lonceng tidak jatuh kedalam pipa
-          Naikkan galah 1,5 meter keatas roda dan sambungkan dengan ulir lonceng, putar sampai kuat
-          Pasang kunci stang pada galah lebih kurang 50 / 60 cm diatas roda estik, kunci kuat agar tidak goyang
-          Bersihkan tangkai kunci dan galah dari pasir, dengan air agar tangan krew bor tidak sakit ketika memegang tangkai kunci
-          4 orang diatas roda memegang tangkai kunci stang mengangkat dan menumbuk lonceng pada lapisan tanah, lapisan tanah yang terpotong akan tertampung ke dalam bailer
-          Setelah batas estik rata dengan permukaan kepala buluh, hentikan penumbukan, krew bor dibawah akan memutar pipa searah jarum jam maka pipa akan masuk perlahan dan setelah pipa tidak masuk lagi hentikan pemutaran, dan mulai penumbukan lagi.
7.      Pengambilan conto lapisan
-          Setelah pipa  masuk lebih kurang 30 cm, angkat lonceng ke atas
-          Buka galah dari sambungan lonceng, turunkan galah yang terpasang kunci stang
-          Turunkan lonceng dan tuangkan perlahan lahan conto tanah yang ada didalam lonceng kedalam bak ukur tanah dan jangan sampai tumpah keluar
-          Mandor / pengawas / juru bor harus mengamati conto yang keluar dari lonceng untuk menentukan jenis lapisannya dan warna lapisan
-          Lalu ulangi kegiatan pemboran secara berulang ulang dengan proses pengerjaan yang sama sampai pemutusan lapisan persatu meter dan sampai pemboran mencapai kong atau batuan dasar
8.      Sambung pipa casing kedua
-          Turunkan roda bor dan semua peralatan yang ada diatas roda bor
-          Buka kepala buluh dengan palu ( 5 atau 3 kg ), angkat dan pinggirkan pada tempat yang aman
-          Ambil pipa casing yang baru dan sambungkan dengan pipa casing yang sudah tertancap pada tanah
-          Pasangkan kepala buluh, sambungkan pada pipa casing
-          Roda bor dimasukan pada kepala buluh, putar agar kepala buluh tidak goyang
9.      Pemboran lanjutan
-          Kegiatan yang dilakukan sama pada saat pemboran awal, hanya di tambah galah 1,5 meter
-          Lakukan pengambilan conto lapisan tanah seperti pengambilan conto tanah pada pipa casing pertama
-          Pekerjaan ini dilakukan secara berulang ulang dengan proses yang sama sampai pemboran selesai ( mencapai batuan dasar )
1.  Pencabutan pipa casing
-          Angkat dan turunkan roda bor dan semua peralatan yang ada diatasnya, tempatkan pada posisi yang aman
-          Buka kepala buluh dari sambungan casing
-          Pasang kunci dauble ( dauble casing wrench ) pada casing, gunanya untuk menahan pipa jangan sampai jatuh dalam lobang bor waktu pembukaan casing dan memuta casing setengah lingkaran agar lebih mudah waktu pencabutan casing
-          Belitkan rantai pencabut pipa pada casing bagian bawah
-          Pasang kayu cabang dan tegakkan disamping casing, letakkan kayu pengungkit diatas kayu cabang
-          Beberapa orang krew bor naik diatas kayu pengungkit dan sebagian lainnya memutar casing
-          Perlahan casing akan terungkit, buka casing dari sambungan dan tempatkan pada posisi yang aman
-          Pekerjaan ini dilakukan secara berulang ulang hingga pipa habis tercabut
-          Pemakaian kunci dauble setiap pembukaan casing sangat disarankan untuk mengantisipasi jangan sampai pipa jatuh kedalam lobang bor


  Pengukuran volume conto
-          Conto yang ada dalam bak ukur tanah dibuang airnya jangan ada conto pasir yang terbuang
-          Ukur volume dengan penggaris ketebalan conto dalam bak ukur tanah, 10 cm berarti volume conto 10 liter
                                         40 cm
                                                                               30 cm

                                                                                      25 cm
Di ambil luas persegi panjang             = P x L x T
                                                            = 40 x 25 x 30
                                                            = 30.000 cmᶟ → 30 dmᶟ
1 liter = 1 dmᶟ → jadi kalau 30 dmᶟ = 30 liter
Jadi diasumsikan kalau 1 cm sample dalam bak ukur tanah berarti sama dengan 1 liter sample yang didapat  
Perhitungan liter dan recovery :
Di ambil dari contoh memo Bangka Bor  
NO
DARI
SAMPAI
TEBAL
LITHOLOGI
WARNA
LITER
ISI %
1
0.00
1.00
1.00
PK, PH
A
10
83
2
1.00
2.00
1.00
PK, PH
A
9.5
79
3
2.00
3.00
1.00
PK, PH
A
10.5
87
4
3.00
4.00
1.00
PK, PH
A
10
83
5
4.00
4.50
0.50
PK, PH
A
5
83
6
4.50
5.50
1.00
LP, PK, PH
A
10.5
87
7
5.50
6.50
1.00
LP, PK, PH
A
11
91
8
6.50
7.50
1.00
LP, PK, PH
A
10
83
9
7.50
8.50
1.00
LP, PK, PH
A
10.5
87
10
8.50
9.50
1.00
LP, PK, PH
A
10
83
11
9.50
9.80
0.30
Skiss
M
97
85

Misalkan sebuah pipa bor mempunyai diameter 124 mm, dengan rumus KB ( koefisien Bor )    =   1     = 1 : ( 3,14 x (62²) ) = 1 : 12070,16                                                             πr²                                          = 0,00008285 mm²                                                      jadi KB yang didapat                         = 0,83 dm²
           
                       
Recovery ( isi % ) = Volume di dapat x KB               x 100%
                                             Tebal

Misalkan di dapat = 10 liter x 0,83     x 100%   =   83 %
                                      1 meter
Sedangkan untuk recovery seluruh dalam 1 lobang bor :
Jumlah liter x KB                    x 100%
Jumlah dalam

97 liter x 0,83                          x 100%            =  85%
9,5 meter